Blora,
Madrasah diniyah sebagai sekolah non formal perlu meningkatkan kualitas santri melalui upaya implementasi pengembangan kurikulum yang tepat sehingga menghasilkan metode yang sesuai untuk pengajaran yang optimal.
Bahan pelajaran dan metode mengajar yang tidak sesuai dengan keadaan santri akan menimbulkan kontradiksi dalam diri santri seolah-olah dipaksa untuk belajar sehingga proses pengajaran kurang optimal.
Untuk itu ada beberapa prinsip pelaksanaan kurikulum madin yang harus diperhatikan antara lain dalam pelaksanaan kurikulumnya, ustadz diharapkan memperhatikan kecerdasan, kemampuan, pengetahuan yang telah dikuasai santri, metode-metode mengajar yang akan dipergunakan yang sesuai dengan sifat bahan pengajaran dan kematangan santri, Fleksibilitas Program, berorientasi pada tujuan, Efektifitas dan Efisiensi dan Kontiunitas.
Demikian disampaikan oleh Kasi PD Pontren, Fathul Himam, M. PdI dalam acara workshop kurikulum madarasah diniyyah yang diikuti oleh sekitar 80 guru Madin se-kabupaten Blora kemaren(4/11) di gedung Mr. Green Blora.
Fathul menyatakan bahwa dalam mengorganisir proses pembelajaran,harus diorentasikan kepada tujuan yang tepat untuk pengembangan kepribadian anak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai Madin, yakni menghasilkan Kompetensi lulusan Madrasah Diniyah Takmiliyah yang Memiliki pengetahuan dan ketrampilan agama Islam (Tafaqquh fi al din), Memiliki akhlakul karimah dan Memiliki kecakapan sosial dalam memecahkan berbagai persoalan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.
Untuk itu menurutnya kurikulum yang disiapkan di madin hendaknya memiliki komponen Tujuan, yaitu arah/sasaran yang hendak di tuju oleh proses penyelenggara pendidikan, Isi kurikulum, yaitu pengalaman belajar yang diperoleh santri di Madin Takmiliyah, Metode Proses belajar mengajar, yaitu cara santri memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan dan Evaluasi yaitu cara untuk mengetahui, apakah sasaran yang ingin di tuju dapat tercapai atau tidak.
“ada banyak metode pengajaran yang bisa diterapkan madin seperti Sorogan dimana santri diajak memahami kitab secara perlahan kata demi kata, kajian umum ustadz (Bandongan), Hafalan, Musyawaroh dan Paikem Gembrot tinggal menyesuaikan kebutuhan santri” paparnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Kankemenag Blora, Drs. H. Tri Hidayat bahwa yang membedakan kualitas madin adalah implementasi kurikulum yang digunakan apakah sudah menyesuaikan dengan potensi SDM masing masing madin ataukah belum, sehingga menjadi tugas kepala Madin untuk meningkatkan kualitas madin seperti apa yang diharapkan oleh masyarakat.
“kualitas madin adalah tanggung jawab kepala madin beserta jajaran gurunya dalam menerapkan kurikulum yang tepat sesuai kondisi dan potensi masyarakat setempat dan kemenag akan terus memfasilitasi pengembangan tersebut” ungkapnya serius.
Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Blora, Cuk Suwartono juga memaparkan teknik implementasi kurikulum yang baik untuk digunakan sebagai acuan madin se-Kabupaten Blora untuk pengembangan metode pengajaran yang tepat dan upaya penyeragaman evaluasi baik sumatif maupun formatif supaya dapat mengukur kualitas santri untuk peningkatan mutu madin.(ima)