Blora,
Sejumlah tokoh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh lintas etnis, tokoh agama serta tokoh pemuda, menghadiri rapat koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Blora pada akhi tahun 2016 sebagai upaya evaluasi kegiatan akhir tahun dan menjaga suasana kondusif.
Kegiatan ini digelar pengurus FKUB pada kamis (1/12) di Aula Kankemenag Blora dengan dihadiri sekitar 25 orang.
Ketua FKUB, KH Ishad Shofawi dalam sambutannya mengingatkan, betapa pentingnya peran FKUB hadir di tengah-tengah masyarakat saat ini, yakni Untuk dapat memelihara kerukunan seluruh umat beragama serta dapat bangkit untuk mengejar berbagai ketertinggalan, untuk meraih kemajuan bangsa di masa yang akan datang.
“Di antara persoalan yang muncul di negara kita pada era reformasi sekarang ini adalah adanya bahaya disintegrasi, dengan gejala yang menunjukkan ancaman disintegrasi ini muncul dalam berbagai bentuk, seperti terjadinya konflik horizontal di beberapa tempat, yang dikaitkan dengan faktor-faktor ekonomi, politik, ataupun budaya bahkan agama,” ungkapnya.
Konflik ini semakin masif ketika sentimen keagamaan ikut mewarnai berbagai peristiwa.
Ishad juga menaparkan adanya Pertikaian antar kelompok dalam masyarakat pada gilirannya dapat menjadi ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Oleh karena itu, kondisi yang kurang kondusif tersebut, harus dihentikan. Karena dapat menghambat upaya kita mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yakni mengantarkan Indonesia, bangsa yang maju, sejahtera dan bermartabat,untuk itu FKUB Blora hendaknya mampu menjadi jembatan komunikasi antar umat beragama untuk turut menciptakan suasana kondusif” tegasnya.
Hal senada dungkapkan sekretaris FKUB Blora, Drs.H. Dwiyanto,M.Ag bahwa Jika diikuti perkembangan situasi saat ini, dari informasi pusat hingga ke daerah, maka tidak bisa dipungkiri banyak sekali rentetan peristiwa yang mengancam keutuhan dan kerukunan umat beragama dengan berbagai latar belakang ekonomi, politik maupun budaya yang mengikutinya sehingga muncul konflik yang mengatasnamakan agama dan kekerasan.
“Termasuk bahwa ada campur tangan asing.,tentu kita yang mencintai Bangsa Indonesia ini, seperti statemen Panglima TNI berkaitan dengan mekanisme untuk melaksanakan pernyataan pendapat di muka umum dan sebagainya. Maka rakor Ini sebagai upaya dari komponen-komponen bangsa yang ada untuk menjaga keutuhan kita sebagai tokoh agama yang wajib menjaga kerukunan umat beragama di wilayah Blora ini,” ungkap Dwiyanto.
“Dan saya setuju kita semua mau berperan aktif, disamping itu persatuan, kesatuan, kerukunan dan kerja sama sesama komponen bangsa harus semakin diperkuat, karena situasi kurang kondusif cenderung meningkat dan menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama untuk menjaga kerukunan” jelasnya.
Apabila ditelusuri lebih jauh, akar permasalahan disintegrasi dan penghambat kemajuan suatu bangsa, bukan semata-mata karena pengaruh eksternal globalisasi, melainkan perpaduan dari tatanan kehidupan yang kurang stabil, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
“FKUB sebagai wadah mediator, rekonsiliator dan fasilitator dalam memberikan rujukan dan inspirasi tentang kerukunan beragama, sehingga tumbuh rasa saling percaya dan membangun opini publik, tentang pentingnya hidup rukun,” terangnya.
Pengelolaan FKUB pun dilakukan dengan cara terbuka, dialogis dan bersahabat. Dengan memberi peluang pengkaderan seluas-seluasnya kepada setiap anggotanya.
“FKUB Blora dalam perjalanannya ke depan, harus mampu mengikat kerjasama dengan majelis agama, LSM kerukunan dan pemerintah, untuk bersatu hati dan netral dalam penanganan persoalan masyarakat serta mediator dalam perselisihan. Karena itulah diharapkan, anggota FKUB adalah pemimpin ormas keagamaan maupun pemuka agama,” pungkasnya.
Rakor dilanjutkan dengan paparan dialogis oleh masing masing pengurus, anggota dan tokoh agama setempat untuk membahas potensi permasalahan dan solusinya bersama sama. (ima)