BLORA,

Data Education Management Information System (EMIS) sangat penting untuk peningkatan mutu lembaga pendidikan Kegamaan seperti pondok pesantren, Madrasah Diniyah maupun TPQ karena sebagai data awal dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan serta pengembangan mutu lebih lanjut.

Untuk itu, sangat diperlukan akurasi data dari masing masing operator EMIS di madin, Ponpes maupun TPQ sehingga verifikasi dan input data EMIS di tingkat Kabupaten dapat berjalan dengan lancar, begitu pula di tingkat propinsi maupun nasional.

Demikian disampaikan Kasi PD Pontren, Fathul Himam, M.PdI dalam acara Sosialisasi tenaga pengolah data pendidikan lembaga Pendidikan Keagamaan pada selasa (9 /8) di Gedung Mr. Green Blora.

Fathul Himam juga berpesan bahwa data EMIS harus diisi sesuai dengan data riil di lapangan berdasarkan update data terbaru bukan asal copy paste dan meniru data yang lama sehingga bisa valid sesuai kenyataan yang ada.

“akurasi data ini akan berpengaruh pada proses perencanaan dan penganggaran karena semua mengacu pada data EMIS yang terbaru sehingga salah dalam mengisi akan berdampak pada perencanaan kegiatan lembaga keagamaan” imbuhnya.

Sekitar 60 peserta yang hadir dari unsur pengolah data ponpes, madin maupun TPQ di masing masing kecamatan nampak serius dan antusias mengikuti kegiatan dengan praktek aplikasi EMIS secara langsung serta tanya jawab antara audien dan narasumber.

Kepala Kankemenag Blora, Drs. H. Tri Hidayat menyampaikan bahwa lembaga pendidikan keagamaan hendaknya bisa lebh meningkat kualitasnya karena saat ini merupakan era modernisasi dan kecanggihan teknologi sehingga data dan informasi  harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang memerlukan kemutakhiran data dan sistem informasi seperti adanya Emis tersebut.

“kami berharap semua operator di masing masing lembaga keagamaan bisa  meningkatkan akurasi datanya sehingga bisa menunjang pelaksanaan peningkatan mutu baik pesantren, madin dan TPQ” paparnya.

Menurut Tri Hidayat semua pengurus Madrasah Diniyah, Ponpes dan TPQ harus mengikuti perkembangan paradigma baru pendidikan yang menuntut adanya peran informasi dan teknologi dalam pembelajaran, namun tidak meninggalkan ciri khas madrasah dibiyah dan pondok pesantren dalam penanaman pendidikan akhlak dan karakter.

“madin, TPQ dan ponpes harus punya visi, misi dan strategi dan tujuan pendidikan yang jelas dan terarah, serta ada pembagian tugas yang jelas dalam pengelolaannya sehingga peningkatan  kualitas lembaga keagamaan bisa bersaing dalam dunia pendidikan yang semakin modern” ujarnya serius.

Sementara itu, narasumber dari Kanwil Kemenag Jateng, M.Chabibil Huda, S.Sos.I menyampaikan bahwa seharusnya Sumber daya manusia yag ditempatkan sebagai pengelola EMIS adalah tenaga profesional yang mengerti tentang data agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan anggaran akibat data yang tidak valid.

“untuk itu, operator EMIS lembaga keagamaan  harus senantiasa meningkatkan keilmuan dan pengetahuannya tentang aplikasi EMIS dan tidak segan bertanya apabila terjadi kendala dalam pengisian data tersebut supaya tidak menghambat kinerja yang lainnya” pintanya.

“terjadi kekurangan satu data di sebuah lembaga baik ponpes, madin maupun TPQ akan sangat berpengaruh pada akurasi data lainnya sehingga harus segera diurai dan diselesaikan dan inilah pentingnya koordinasi dan kerjasama dalam pengelolaan data EMIS secara sinergis dan koordinatif” lanjutnya.

“data EMIS secara nasional digunakan oleh Kementerian Agama dalam merancang kebutuhan penganggaran baik di ponpes, madin dan TPQ sehingga apabila asal dalam mengisinya akan berpengaruh pada kebjakan secara nasional sehingga sangat penting akurasi data EMIS dan tepat waktu dalam pelaporannya” pungkasnya.

Huda pun memaparkan aplikasi secara langsung untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang kendala, hambatan dan perkembangan data EMIS kepada peserta serta menjawab berbagai pertanyaan peserta secara teori dan praktek. (Ima)

Skip to content