Islam adalah agama yang sangat mengajarkan nilai nilai cint damai, anti kekerasan, menebarkan kasih sayang dan rahmat bagi sekalian alam umat manusia dimanapun berada (Rahmatan lil alamin), dan tidak mengajarkan paham yang menyimpang, keji dan sadis.
Demikian disampaikan oleh Kasubbag TU Kankemenag Blora, Drs. H. Dwiyanto, M.Ag dalam acara pengajian rutin senin pagi di aula Kankemenag Blora pada senin (4/1) di Aula Kankemenag Blora.
Di hadapan sekitar 40 pegawai staf Kemenag, Kasi kasi dan Gara Syariah Kemenag Blora, Dwiyanto memaparkan materi arti sebenarnya ajaran Islam yang benar dan haq bagi masyarakat yang akan membawa umat manusia untuk selalu berpedoman pada nilai nilai kebaikan, bukan sebaliknya.
Untuk itu sangat penting pegawai kemenag menjaga suasana kondusif di masyarakat di saat keresahan umat akibat banyaknya penyimpangan agama Islam yang dewasa ini terjadi di masyarakat seperti ISIS, Gafatar dan lainnya.
Dwiyanto juga menadaskan bahwa Kemenag perlu juga untuk memperbaiki citra Nabi Muhammad di dunia pendidikan Islam lantaran Rasulullah SAW cenderung ditonjolkan sebagai pribadi yang gemar perang daripada sebagai individu toleran dan penyebar kasih sayang.
“terdapat informasi dari riset Litbang Kemenag diketahui jika siswa mempersepsikan Rasul sebagai sosok yang senang berperang daripada kebaikan yang lainnya,” kata Dwiyanto serius.
Menurut mantan kasi Haji tersebut, materi pendidikan “Sirah Nabawiyah” di kelas lebih banyak diceritakan soal berbagai perang yang melibatkan Nabi Muhammad seperti Perang Badar dan Perang Uhud, namun sisi lain dari Nabi Muhammad justru kurang terekspos seperti tentang keteladanan Rasulullah SAW yang mengajarkan kasih sayang dan toleransi.
Parahnya pendidikan Islam yang mencitrakan Nabi SAW yang cenderung dekat dengan kekerasan ini, kata dia, diperkuat dengan masuknya budaya global negatif yang kian gencar. Di antaranya seperti muatan kekerasan yang disampaikan lewat “game” dan film sehingga perlahan tapi pasti kekerasan itu semakin membekas di pikiran anak-anak.
“Ini yang ingin coba dilengkapi secara menyeluruh untuk menjelaskan sosok Rasul itu,” kata dia.
Kemenag memang sudah saatnya untuk merancang rumusan besar tentang pelajaran keagamaan itu yang bisa membuat generasi muda lebih memahami inti dari agama itu sendiri, dan Di Islam, sebaiknya didorong untuk menuju Islam yang moderat sesuai arti Islam secara bahasa yaitu keselamatan, atau dengan kata lain, Islam yang dikembangkan bukan sebagai agama yang ekstrim.
“Substansi agama harus dipahami untuk mensejahterakan sesama, menjadikan manusia sebagai lazimnya manusia, menjunjung harkat martabatnya,” Pungkas Dwiyanto. (Ima)