BLORA,

Penyebaran radikalisame dan terorisme menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia, dan dari  sekian upaya untuk membendung penyebaran paham radikal terorisme tersebut, mencegah merupakan upaya paling efektif.

“Mencegah jelas lebih baik untuk menanggulangi terorisme yang berkedok agama, dibandingkan harus menyembuhkan. Dari sisi agama, ada beberapa langkah yang dapat menangkal propaganda radikalisme terorisme tersebut,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia(MUI) Kabupaten Blora, KH Muharror Ali pada kamis(24/11) di Aula kemenag Blora dalam acara Rapat koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Langkah itu, lanjut KH Muharror Ali, antara lain untuk meluruskan pemahaman ajaran agama dan menghindari kekeliruan yang sering terjadi. Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus saling bekerjasama untuk menangkal paham ini, juga melakukan pencegahan dari dalam umat beragama sehingga benih-benih itu tidak timbul.

“Apabila ada orang atau kelompok yang terjangkiti paham radikalisme, hendaknya dilakukan pendekatan keagamaan secara simpatik, sehingga dapat menyadarkan kelompok ini. Perlu juga diadakan ceramah dan diskusi-diskusi yang simpatik dengan kelompok-kelompok yang terkontaminasi oleh kelompok radikal,” imbuh KH Muharror Ali yang juga Rois Syuriah NU Blora ini.

Menurut KH Muharror Ali, paham radikalisme yang mengarah pada terorisme sebenarnya bukan masalah baru tapi telah terjadi pada awal perkembangan agama-agama dunia. Kelompok ini salah dalam memahami agama, sehingga mengarah pada radikalisme. Penyebabnya, sebagian karena pemahaman agama yang sempit dan dangkal. Sebab lainnya karena menggunakan agama untuk kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, atau kepentingan politik.

“Dengan mengatasnamakan agama, mereka meyakini akan dapat mempengaruhi banyak orang, sehingga ambisinya terwujud. Mencegahnya adalah dengan jalan memberikan pemahaman agama secara utuh, integral dan komprehensif sehingga ajaran agama itu tidak dipahami secara parsial yang mengakibatkan terjadi kesalahpahaman,” tuturnya.

Langkah berikutnya adalah memberikan informasi kepada umat beragama agar tidak mudah diprovokasi oleh kelompok ini, sehingga rencana mereka akan gagal. Kaitannya dengan keutuhan NKRI, para penganut agama harus menyadari bahwa NKRI adalah merupakan bagian dari kehidupan beragama. Karena itu wajib dipertahankan dengan sungguh-sungguh.

“Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara akan menjadi tenang, dan kekacauan akan dapat dihindari dengan baik,” tukas Muharror Ali.

Hal itu yang juga disampaikan  Ketua FKUB Blora, Ishad Shofawi bahwa pemuka agama harus bisa  fokus memberikan pencegahan dan pencerahan pada umatnya masing masing supaya tidak menimbulkan suasana panas dan bergejolak dengan adanya paham radikalisme yang berkembang dewasa ini dengan bekerjasama pihak aparat maupun pihak berwenang untuk menjaga suasana kondusif, sehingga perlu program pencegahan yang melibatkan beberapa stake holder baik pemerintah maupun non pemerintah dan Selain pencegahan, program kedua adalah rehabilitasi dan deradikalisasi yang menyasar para napi pelaku terorisme, baik yang di dalam Lembaga Pemasyarakat (Lapas) dan di luar Lapas.

 “Paham radikal terorisme tidak bisa diselesaikan dengan cara kekerasan seperti yang dulu digunakan pemerintah Orde Baru. Sekarang pemerintaah dan negara harus hadir melindungi rakyatnya dari ancaman-ancaman yang ditimbulkan dari gerakan tersebut terutama dengan memperkuat ideologi bangsa dan ekonomi rakyat,” jelasnya.

Ishad  mengungkapkan bahwa, ketika masih dalam urusan agama, radikal itu masih bisa didiskusikan di mushola-mushola atau masjid. Tetapi bila sudah keluar dari masalah agama dan masuk ke masalah sosial dan politik, serta melibatkan banyak orang, radikalisme itu harus dicegah dan diantisipasi karena itu menjadi pintu masuk radikalisme. Dengan demikian, upaya pencegahan itulah yang harus dikedepankan dalam menciptakan kedamaian dan keutuhan NKRI.

“Di Blora juga banyak organisasi kemasyarakatan keagamaan dan sosial yang peduli terhadap pemikiran keagamaan yang inklusif. Itulah kekuatan dan benteng peradaban kita,” tuturnya.

Selain itu, Ishad  juga berharap orang tua membentengi keluarga dan anaknya dari pengaruh ISIS dan paham radikal lainnya, dan Orang tua harus berhati-hati dalam memilih tokoh atau guru agama yang mengajar anak-anaknya.

“Pilih guru agama yang memiliki pemikiran inklusif dan bukan garis keras. Bila ada guru yang mengajarkan membunuh orang lain yang memiliki paham dan keyakinan berbeda, jangan diikuti,” ucapnya.

“Partisipasi para guru tidak terbatas pada guru pelajaran agama, tetapi juga guru pelajaran lain. Tidak mesti menyita waktu, tetapi bisa disampaikan sepintas lalu tetapi sering. Itu akan lebih membawa dampak besar,” tuturnya.

Selain itu, keluarga sebagai benteng pertama untuk menghalau dan mengantisipasi pengaruh paham ISIS dengan melakukan upaya preventif melalui nasihat-nasihat yang baik.

Hal senada disampaikan Plt kepala kankemenag Blora, Drs.H Dwiyanto,M.Ag bahwa untuk  untuk mencegah penyebaran paham ISIS dan paham radikal lainnya, harus bekerjasama antara pemerintah, ulama dan tokoh agama serta semua stakeholder terkait sehingga pencegahan dan penanggulangannya bisa bersama sama, serta ketegasan undang-undang yang memungkinkan pemerintah memidanakan seseorang yang dianggap membahayakan dan melakukan propaganda.

Selain itu, menurut Dwiyanto juga perlu beberapa langkah menangkal paham radikalisme  antara lain  Memperkenalkan Ilmu Pengetahuan Dengan Baik Dan Benar,   Memahamkan Ilmu Pengetahuan Dengan Baik Dan Benar, Meminimalisir Kesenjangan Sosial, Menjaga Persatuan Dan Kesatuan,  Mendukung Aksi Perdamaian, Berperan Aktif Dalam Melaporkan Radikalisme Dan Terorisme, Meningkatkan Pemahaman Akan Hidup Kebersamaan, Menyaring Informasi Yang Didapatkan, dan ikut aktif dalam mensosialisasikan bahaya paham radikalisme. (Ima)

Skip to content