BLORA,
Seluruh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Blora diharapkan saling berkoordinasi satu sama lain untuk menangkal segala paham yang memecah belah kerukunan umat beragama dan harus selalu bersinergi dengan Pemkab Blora dan berbagai unsur lintas sektoral.
Meskipun Blora merupakan kota yang relatif aman, namun beberapa benih intoleransi dapat menumbuhkan munculnya kerawanan dan berdasarkan Potensi kerawanan yang ditimbulkan akibat intoleransi tersebut bisa saja terjadi.
Demikian disampaikan oleh Wakil Bupati Blora, H. Arief Rahman dalam acara rakor pengurus dan anggota FKUB Kabupaten Blora di aula Bupati Blora pada senin (18/7) kemaren.
Arief juga menandaskn bahwa Intoleransi keagamaan bisa berlapis-lapis, dan Keadaan tidak sehat secara keagamaan dan sosial bisa terjadi di antara umat satu agama dan umat agama lain, dan juga bisa terjadi di antara aliran, denominasi, dan mazhab berbeda di dalam satu agama tertentu.
“Intoleransi di dalam satu agama bukan tidak sering lebih sengit dibandingkan intoleransi antaragama untuk itu semua elemen harus kita ajak untuk bersama sama menjaga kerukunan dan perdamaian melalui rapat koordinasi dan berbagai kegiatan lainnya”paparnya.
Ketua FKUB Blora, Drs.Ishad Shofawi juga menandaskan bahwa Intoleransi keagamaan juga tidak bisa dikatakan disebabkan rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi komunitas keagamaan berbeda, namun Merupakan gejala umum masyarakat agama yang kurang berpendidikan atau berekonomi memadai tidak menampilkan secara genuine sikap intoleran yang agresif: mereka umumnya damai. Kendati, mereka lebih rentan provokasi dan hasutan mereka yang jauh lebih terdidik dan berpengetahuan.
Dalam rapat tersebut dibahas beberapa permasalahan dan beberapa kasus intoleransi yang bisa saja timbul terutama terkait pendirian rumah ibadah dan lainnya yang juga terjadi akibat adanya sikap ekslusivitas dari kelompok tertentu, termasuk dalam bentuk yang mudah mengkafirkan orang lain atau Takfiri.
“kita memiliki pemahaman dan praksis umat beragama mainstream yang inklusif dan toleran tanpa harus mengompromikan akidah dan ibadah masing-masing, Tetapi, jelas inklusivitas dan toleransi itu perlu terus diperjuangkan. Jika tidak, intoleransi keagamaan dapat mewabah merusak sendi kehidupan berbangsa dan beragama”ujarnya.(ima)