BLORA,
Kementerian Agama Blora menggelar acara Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 bagi guru madrasah baik tingkat MI,MTS dan MA se-Kabupaten Blora pada 17-20 Oktober, 21,22,24 dan 25 Oktober 2015 di Hotel Al Madina dan hotel Blora Indah yang terdiri dari lima gelombang untuk meningkatkan kualitas guru madrasah dalam pembelajaran.
Kasi Kurikulum dan Evaluasi Kanwil kementerian Agama Jawa Tengah, Mohamammad Nurabadi M.PdI menyampaikan bahwa Kementerian Agama memilih tetap menggunakan Kurikulum 2013 (K13) untuk mata pelajaran yang menjadi kekhasan madrasah, yaitu: rumpun Pendidikan Agama Islam (Al-Quran Hadits, Akidah Akhlak, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam) dan Bahasa Arab, bahkan Kemenag sedang menyiapkan Peraturan Menteri Agama (PMA) yang akan mengatur tentang hal ini, sehingga akan lebih banyak upaya untuk melakukan sosialisasi pembelajaran kurikulum 2013.
“Kita tengah menyiapkan PMA tentang kebijakan ini. (Mapel) umum mengikuti Dikbud pending, PAI dan Bahasa Arab lanjut berikut segala konsekuensi teknis, seperti pengisian raport dan seterusnya,” tegasnya.
Kepada peserta Bimtek, Jamun menandaskan bahwa dalam kurikulum 2013, guru berperan sebagai fasilitator, sebagai desain pembelajaran, dimana Pusat pembelajaran ada pada peserta didik, maka guru harus mendorong peserta didik menjadi lebih kreatif dan mandiri dan peserta didik mampu belajar sendiri.
“Mendidik ibarat menanam pohon. Pertama harus menyiapkan lahan, kedua menggali, kemudian menanam, terus menyiram dan merawat. Artinya guru harus menyiapkan bukan saja materi tapi mengetahui kesiapan peserta didik, kemudian harus menggali potensi peserta didik” paparnya serius.
Guru juga harus membimbing karakternya sehingga peserta didik dapat mandiri, menemukan sendiri, dan mengevaluasi hasil kerjanya, dan Mata pelajaran yang satu dengan yang lain harus saling membangun menjadi sebuah pola bangunan yang utuh, Seperti ibarat Mapel A membangun pola krah, mapel B membangun lengan kanan, mapel B bagian lengan kiri, mapel C bagian badan depan dan seterusnya. Semuanya bersinergi membangun sebah pola baju yang maching, baik pola, ukuran dan warnanya.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala kankemenag Blora, Drs. H. Tri Hidayat bahwa dalam menghadapi akan diberlakukannya kurikulum 2013 secara bertahap dan terbatas, setidaknya ada 3 (tiga) hal yang harus diperhatikan guru antara lain Pertama, perubahan mind set/pola pikir.
Pengembangan kurikulum dengan pendekatan saintifik memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran melalui mengamati, menanya, menalar pada proses inquiry, eksplorasi, dan elaborasi.
“Perubahan pola ocia guru dibutuhkan untuk bisa berperan lebih menjadi fasilitator dan motivator dari pada inisiator dan eksekutor, dalam merubah dari teacher centered ke student centered”.
“untuk mewujudkan perubahan mindset guru diperlukan adanya good will dari para guru untuk merubah mind set-nya bahwa tugas mengajar adalah sebagai komitmen profesi dalam membelajarkan dan mencerdaskan anak bangsa”tutur Tri Hidayat.
Selain itu, diperlukan tindakan konstruktif dan inovatif guru, dimana rencana pengembangan kurikulum 2013 yang akan diikuti dengan fasilitasi buku siswa, buku pedoman guru, maupun silabus serta RPP-nya tentunya tidak malah membuat guru merasa “santai” dalam mengajar, tetapi hal ini dimaksudkan supaya guru tidak lagi terlalu disibukkan dengan hal-hal yang bersifat ocialtivee, tetapi lebih ocia pada kegiatan inovatif akademis pembelajaran di kelas.
“Keahliaan, kejelian dan kecerdasan guru dalam meramu “ kompetensi inti, dan kompetensi dasar; aspek sikap, pengetahuan, dan aspek keterampilan; akan menghasilkan siswa yang kompeten” paparnya.
“Maka pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) baik melalui level sekolah maupun kelompok/wadah se-profesi (KKG/MGMP), perlu ditingkatkan untuk saling asah, asih, dan asuh ocial kolega guna menghasilkan siswa-siswa yang cerdas dan unggul” lanjutnya.
Tri Hidayat juga berpesan agar guru memiliki sikap teladan, dimana tugas mendidik guru perlu dikedepankan dalam aspek penguatan sikap dan budi pekerti siswa, dan Pendidikan karakter tidak hanya terhenti pada pengetahuan saja akan tetapi perlu suatu pengintegrasian pada pembiasaan pembelajaran, suri tauladan, apresiasi dan implementasi norma akademis yang nantinya tercermin pada norma social yang semakin utuh dalam praktik berbangsa dan bernegara.
“Terkait dengan hal tersebut, tugas guru utamanya untuk mengintegrasikan nilai sikap dan pendidikan karakter dalam praktik pembelajaran yang diampunya, yang selanjutnya akan menjadi school culture untuk bisa merambah entitas diri pribadi siswa yang berkarakter. Inilah yang dibutuhkan dalam kehidupan kelak menyongsong ketatnya persaingan global untuk tetap berpegang pada jati diri bangsa”pungkasnya.
Narasumber Bimtek Kurtilas dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, Maliki, M.PdI menyampaikan tentang elemen elemen perubahan dalam 2013 Perubahan yang sangat mendasar pada kurikulum 2013 adalah standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian.
Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan .
“pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama, yakni Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian.”paparnya.
Peserta dan narasumber berdialog dan mempraktekkan langsung inti dari kurikulum 2013 yang diiikuti antusias oleh peserta. (ima)