BLORA,
Ramdahan merupakan sarana untuk melakukan penyucian hati (tasyfiatun qolbi) dimana menjadi sangat penting untuk pribadi-pribadi muslim saat ini, Sehingga kewajiban untuk bagi kita untuk memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik baiknya sehingga kita menjadi manusia yang suci jiwa dan raga.
Demikian disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam, Abdul Majid, S.Ag dalam acara kajian kultum Ramadhan di mushola Kankemenag Blora pada Kamis (9/6) kemaren.
Hadir seluruh jajaran pegawai kankemenag, pengawas, dan anak yatim dalam siraman rohani yang diselenggarakan oleh Kankemenag Blora menyambut Bulan suci Ramadahan tersebut.
Majid menyampaikan bahwa umumnya manusia sangat sulit untuk melakukan ibadah kepada Allah, dan manusia sangat malas untuk diajak melakukan ketaatan kepada Sang Pencipta, karena manusia dibekali dengan hawa nafsu.
Hanya saja, manusia berbeda-beda. Ada yang hawa nafsunya lebih menguasi dirinya, sehingga dia bergelimang dengan maksiat, namun dia tidak merasa bersalah. Ada yang hati nuraninya lebih mendominasi, sehingga dia menjadi hamba yang taat.
“ Jika kita perhatikan, sejatinya iman, islam, dan ketaatan kepada Allah adalah sebuah kenikmatan. Seperti hadits bahwa Akan merasakan nikmatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabnya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai rasulnya.” Ujarnya.
Majid menandaskan bahwa dalam hadis tersebut orang yang akan merasakan lezatnya iman ada tiga kriteria, antara lain Orang yang mentauhidkan Allah dengan sepenuhnya, sebagai bukti dia ridha Allah sebagai Rabnya, kemudian dia menjadikan syariat islam sebagai aturan hidupnya, sebagai bukti dia ridha bahwa islam sebagai agamanya dan dia mengikuti petunjuk Rasulullah dalam hidupnya
Untuk itu, maka di Bulan Ramadhan menurut Majid adalah sarana yang tepat dalam mencari obat hati bagi yang sakit hati dan mentalnya , antara lain dengan [ØÂÙÂÙÂْظ٠القÙÂوَّة] menjaga kekuatan.
Ibnul Qoyim menjelaskan, orang yang sakit hati, salah satu upaya yang harus dia lakukan adalah menjaga kekuatan mentalnya, dengan ilmu yang bermanfaat dan melakukan berbagai ketaatan.
“Hatinya harus dipaksa untuk mendengarkan nasehat dan ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan sunah, serta fisiknya dipaksa untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Karena ilmu dan amal, merupakan nutrisi bagi hati manusia” ujarnya serius.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Bukhari, memisalkan ilmu sebagaimana hujan dan hati manusia sebagaimana tanah. Karena hati senantiasa butuh nutrisi berupa ilmu.
Obat hati yang Keduaadalah dengan menjauhi semua perbuatan dosa dan maksiat. Dia hindarkan dirinya dari segala bentuk penyimpangan. Karena dosa dan maksiat adalah sumber penyakit bagi hati.
Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).
Adapun Obat hati ketiga adalah [اÙÂسْتÙÂÙÂْرَاغ٠الـمَوَاد الÙÂَاسÙÂدَة] menghilangkan penyakit yang ada dalam dirinya, yakni dengan banyak bertaubat, beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jika kesalahan itu harus ditutupi dengan membayar kaffarah maka dia siap membayarnya. Jika terkait dengan hak orang lain, diapun siap dengan meminta maaf kepadanya.
“mari kita senantiasa meningkatkan amal ibadah di bulan Ramadhan dan menjaga kesucian hati supaya menjadi insan yang beruntung dan mendapatkan keberkahan Ramadhan ini”pungkasnya. (ima)